Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bahagia di bawah naungan Al-Qur'an

BAHAGIA DI BAWAH NAUNGAN AL-QUR'AN


Al-Quran adalah kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mengandung hal-hal yang berhubungan dengan keimanan, ilmu pengetahuan, kisah-kisah, filsafah, peraturan-peraturan, yang mengatur tingkah laku dan tata cara hidup manusia, baik sebagai makhluk individu ataupun sebagai makhluk sosial, sehingga berbahagia hidup di dunia dan di akhirat.

Dengan adanya Al-Quran, maka manusia dapat menjalani kehidupan dengan terarah sebab Al-Quran berisi peraturan-peraturan yang diperlukan manusia. Fungsi Al-Quran adalah sebagai petunjuk bagi segenap manusia dalam hidup dan kehidupan serta sebagai keterangan yang jelas. Al-Quran juga berfungsi sebagai pembeda antara yang haq dan yang batil, sekaligus sebagai mukjizat dan rahmat.

Al-Quran sebagai petunjuk, Allah yatakan antara lain pada surat Al-Baqarah ayat 2 :

ذَٲلِكَ ٱلۡڪِتَـٰبُ لَا رَيۡبَ‌ۛ فِيهِ‌ۛ هُدً۬ى لِّلۡمُتَّقِينَ
Artinya : “Kitab [Al Qur’an] ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”. (Q.S. Al-Baqarah [2] : 2).
Pada ayat lain Surat Al-Baqarah ayat 185 Allah juga menyebutkan :

…..هُدً۬ى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَـٰتٍ۬ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِ‌ۚ…..
Artinya : “…..Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda [antara yang hak dan yang bathil]…..”. (Q.S. Al-Baqarah [2] : 185).

Sebagai petunjuk hidup, maka manusia yang beriman berusaha membaca Al-Quran, memahami artinya dan menghafalnya sebagai keutamaan. Untuk kemudian diamalkan dalam kehidupa sehari-hari.

  • Menghafal Al-Quran

Al-Quran secara harfiah berarti bacaan. Kata Al-Quran itu sendiri berasal dari kata kerja “qara’a” yang berarti membaca, dan bentuk masdarnya adalah “qur’an” yang berarti bacaan.

Oleh karena itu, Al-Quran dibaca oleh umat Islam setiap hari di berbagai penjuru dunia. Namun, Al-Quran bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga dihafal. Hal ini mengingat karena berbagai keutamaan dari menghafal Al-Quran.

Allah menyatakan di dalam firman-Nya Surat Al-Hijr ayat 9 :

إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُ ۥ لَحَـٰفِظُونَ
Artinya : “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (Q.S. Al-Hijr [15] :9).

Al-Quran benar-benar terpelihara dengan adanya penghafal Al-Quran di mana-mana. Seperti dinyatakan Ketua Lembaga Tadabbur Quran Internasional Syaikh Nashir bin Sulaiman al-‘Umar, bahwa banyak lapisan masyarakat baik pria maupun wanita, anak-anak maupun orang tua, membaca Al-Quran (tilawah) dan menghafalnya (hifdz) Al-Quran.

Maka, bermuncullanlah lembaga-lembaga penghafal Al-Quran (tahfidz) yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Masjid-masjid mengadakan kegiatan membaca dan menghafal Al-Quran. Demikian pula program menghafal Al-Quran ini diterapkan di madrasah-madrasah dan sekolah-sekolah.
Menurut Abdul Aziz Abdul Rauf bahwa menghafal Al-Quran merupakan amal ibadah yang mulia. Ini karena Allah menurunkan Al-Quran dan menjadikannya sebagai kitab yang mulia. Hingga wajar jika manusia yang berinteraksi dengannya menjadi mulia, baik di sisi manusia, apalagi di sisi Allah, di dunia dan di akhirat.

Di antara keutamaan-keutamaan menghafal Al-Quran disebutkan di dalam hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bahwa di akhirat nanti para penghafal Al-Quran akan mendapat kedudukan yang mulia di sisi Allah.

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا
Artinya : “Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) Al Qur’an nanti : 

Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).” (H.R. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Para penghafal Al-Quran juga disebut dengan keluarga Allah, karena memiliki kekhususan dan keistimewaan di sisi-Nya.
 إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ , قَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ ، مَنْ هُمْ ؟ قَالَ : هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ، أَهْلُ اللهِ وَخَاصَّتُهُ
Artinya: “Allah memiliki keluarga dari kalangan manusia.” Sahabat bertanya, “Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ahlul Quran, mereka adalah keluarga Allah, dan orang yang memiliki keistimewaan di sisi-Nya.” (H.R. Ahmad, An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Bahkan, orang yang menghafal Al-Quran akan mendapatkan mahkota kehormatan (tajul karomah) dari Allah pada hari kiamat. Seperti disebutkan di dalam hadits yang artinya,”Pada hari kiamat Al-Quran akan datang kemudian berkata: “wahai Rabb berilah dia pakaian ,” maka dipakaikanlah kepadanya mahkota kemuliaan, kemudian Al-Quran berkata lagi ; “wahai Rabb, tambahkanlah kepadanya,” maka dipakaikan kepadanya pakaian kemuliaan, kemudian berkata lagi; “wahai Rabb ridhoilah dia,” akhirnya dia pun diridhoi, kemudian dikatakan kepada ahli Al-Quran; “Bacalah dan naiklah, niscaya akan ditambahkan kepadamu satu pahala kebaikan pada setiap ayat.” (HR Ath-Thabrani).

Selanjutnya, untuk memperoleh tingkat hafalan yang maksimal, maka diperlukan metode menghafal Al-Quran yang efektif. Karena menghafal adalah proses mengulang sesuatu baik dengan membaca atau mendengar. Oleh karena itu, siapapun dapat menghafal Al-Quran, anak-anak, remaja, bahkan orang tua. Asal ia mau menghafal, ia akan dapat menghafal sebagian atau seluruh Al-Quran.

Semoga kita dapat memulai dan mencintai membaca dan menghafal Al-Quran semata-mata karena memang Al-Quran adalah pedoman hidup kita sebagai Muslim. Insya Allah.

Posting Komentar untuk "Bahagia di bawah naungan Al-Qur'an"