Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Refleksi Ibnu Athaillah As-Sakandari 20:

Refleksi Ibnu Athaillah As-Sakandari 20:



  • Terus Mencoba Meski Banyak Gagalnya


من علامة الاعتماد علي العمل نقصان الرجاء عند وجود الزلل

Tanda berpegang kepada amal adalah kurangnya harapan ketika ada kesalahan


Kekurangan dan kekhilafan dalam melakukan suatu amal adalah tanda ketidaksempurnaan manusia sebagai hamba Allah yang lemah. Kesempurnaan hanya milik Allah. Namun, hamba Allah yang baik tidak pernah putus asa, patah semangat, dan kemudian mundur ketika ada kekurangan dan kekhilafan dalam mengerjakan amal. Ia justru akan terus belajar menyempurnakan diri dari waktu ke waktu tanpa henti dan tidak merasa amalnya telah sempurna.


Jiwanya hanya gondelan (berpegangan) kepada Allah, bukan kepada amalnya. Ini adalah ciri orang-orang ma’rifatullah (mengetahui hakikat Allah) yang mengesakan Allah.

Ketika mereka melakukan kesalahan atau sedang lupa, mereka langsung sadar bahwa Allah sedang memalingkan mereka dari kebenaran dan melaksanakan qadla’Nya. Mereka cepat sadar dan kembali ke jalan yang benar.


Ketika mereka khusyu’ dalam ibadah dan sedang bangkit dalam melakukan kepatuhan kepada Allah, maka mereka tidak melihat itu adalah daya dan kekuatannya, tapi murni kekuasaan Allah yang menggerakkan hatinya untuk mengingat Allah.


Jiwa mereka tenang dalam menjalani takdir Allah dan hati mereka damai karena pancaran cahayaNya (فانفسهم مطمئنة تحت جريان اقداره وقلوبهم ساكنة بما لاح لها من انواره).


Orang-orang yang ma’rifatullah selalu melakukan perintah Allah. Jika mereka patuh kepada Allah, mereka tidak mengharapkan pahala karena mereka tidak melihat amal baiknya adalah hasil jerih payahnya sendiri yang melakukan sendiri amal tersebut. Jika mereka melakukan kesalahan, maka ia tidak putus asa dan tidak memperberat diri karena mereka berpegang kepada Allah, bukan pada amalnya.

Jika ada orang merasa dirinya yang melakukan amal, sehingga berhak mendapatkan bagian (pahala), maka mereka pada dasarnya berpegang kepada amalnya dan kemampuannya.


Ketika ada kesalahan pada amalnya, maka berkuranglah harapan mereka kepada Allah. Mereka berpegang kepada asbab (hal-hal yang menjadi perantara-sebab), bukan kepada Dzat Pencipta segala alam raya. Di akhirat mereka diperintah Allah untuk mencari keselamatan kepada amalnya, bukan kepada Allah, karena titik berpijaknya bukan menggapai ridla Allah, tapi memperbanyak amal dan berpegangan kepadanya dan menganggapnya sebagai penyelamat dan pemberi keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.


  • Jangan Takut Gagal


Orang yang selalu mengharap ampunan dan kasih sayang Allah (raja’), akan selalu melakukan amal baik meskipun banyak gagalnya dengan banyaknya kesalahan dan kekhilafan yang dilakukan. Mereka pantang mundur dalam menginisiasi kebaikan. Kegagalan demi kegagalan adalah bumbu kehidupan. Justru orang sukses akan selalu belajar dari kegagalan dan kegagalan yang dialami sehingga banyak pelajaran hidup yang dipetik.


Ia terus melangkah, terus melakukan evaluasi, dan memperbaiki diri tanpa henti. Optimisme menjadi spirit hidupnya. Amal yang dilakukan bukan untuk membanggakan diri, tapi mengandung nilai-nilai hidup yang membentuk karakter positif yang melekat dalam diri, seperti keikhlasan, istiqamah, rendah hati, disiplin, pantang menyerah dan putus asa, positive thinking, haus ilmu dan hikmah, terus mengasah inovasi dan kreativitas, dan berlatih tawakkal (berserah diri) kepada Allah setelah semua usaha dilakukan.


Tawakkal ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk lemah yang selalu membutuhkan bimbingan dan pertolongan Allah.


Nabi Muhammad dalam dakwahnya pada awal-awal di Mekah sering mengalami kegagalan demi kegagalan karena ditolak dan dicomooh. Namun, Nabi mempunyai kepercayaan diri kuat dan semangat pantang menyerah. Nabi terus berusaha, sehingga Allah memberikan kesuksesan dakwah secara bertahap. Tempat bergantung Nabi hanya kepada Allah, bukan amalnya.


  • Meneladani Ulama


Menurut sebuah sumber, KH. Abdullah Zain Salam pernah dawuh “Ijeh Latihan Shalat”, masih berlatih shalat. Mbah Dullah tidak merasa shalat yang dilakukan sudah sesuai dengan aturan agama, baik dari sisi fiqhnya atau tasawufnya. Oleh sebab itu, beliau merasa sepanjang hidupnya masih berlatih mendirikan shalat. Makna dawuh ulama sepuh ini sangat dalam. Jangan sampai manusia merasa sudah melakukan amal dengan benar. Hal ini bisa melahirkan sifat sombong yang sangat dibenci Allah.


Dawuh tersebut juga bermakna, bahwa Mbah Dullah masih merasa banyak kekurangan dalam shalat yang dilakukan. Merasa ada banyak kekurangan ini menjadi energi besar dalam melakukan peningkatan terus menerus sepanjang hayat.


Shalat yang benar adalah shalat yang dilakukan yang disamping memenuhi syarat-rukun shalat sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab fiqh, juga hatinya mengingat kepada Allah, sehingga shalatnya membawa hikmah, yaitu membentuk karakter muslim unggul dunia dan akhirat.

Shalat sukses juga dilihat dari pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat, yaitu menjaganya dari perbuatan keji dan mungkar. Ia menjadi teladan bagi orang lain dengan selalu menebarkan kebaikan di tengah masyarakat dan mampu menahan diri dari hal-hal negatif, seperti menyebar kebohongan, ujaran kebencian, dan hal-hal merusak lainnya yang menyebabkan disharmoni dan polarisasi masyarakat yang kontraproduktif bagi nilai-nilai kemanusiaan.


Teladan para ulama ini menjadi spirit bagi umat Islam untuk terus mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai amal yang dilakukan dengan niat mencari ridla Allah dan menyingkirkan sifat sombong dan iri hati yang menjadi duri dalam tubuh.

Posting Komentar untuk "Refleksi Ibnu Athaillah As-Sakandari 20:"